Pernahkah kamu mendengar seorang wanita berkata “Sudahlah, itu bukan dunia perempuan” atau “Dunia yang luas ini milik laki-laki” ?
Terkadang saya sedih mendengarnya. Entah apakah aku yang di“nasehati” seperti itu atau orang lain yang mengungkapkan keadaannya sendiri. Tak jauh beda rasa sedihku mendengarnya.
Indonesia memang pernah memiliki paradigma lama dimana dunia luar adalah milik laki-laki dan dunia perempuan hanyalah di sekitar dapur, rumah, dan urusan anak. Dalam bahasa Jepang, ada suatu ungkapan otoko wa soto onna wa uchi yang secara harafiah berarti ‘laki-laki di luar perempuan di dalam’. Ini menunjukkan banyak sekali ketimpangan dalam pemberian hak-hak asasi antara laki-laki dan perempuan. Keterbatasan hak perempuan seringkali dianggap sebagai suatu hal yang terpuji. Contoh yang paling dapat dilihat adalah perdikat istri yang baik yang ditunjukkan dengan istri yang tidak melawan suami, yang sayangnya sering kali diartikan bahwa istri tidak bisa memberikan pendapat terhadap suatu masalah berkaitan dengan keluarga dll.
Kemudian ada juga yang mengatakan bahwa sosok wanita ideal adalah wanita yang feminin, pandai mengurus urusan rumah tangga, tidak bekerja di luar, dan menurut pada suami. Perdikat-predikat inilah yang membuat sedikit banyak wanita memaklumi bahkan mengamini pembatasan hak mereka, dan bahkan ada yang semakin berusaha meraih gelar wanita baik atau istri idaman tsb.
Walaupun paradigma ini katanya telah berubah setelah kumpulan surat Kartini dipublikasikan dan diterima masyarakat (sayangnya) di saat dia telah meninggal, nyatanya tidak semudah itu mengubah cara pandang banyak orang. Masih ada beberapa perempuan yang berpandangan lama seperti di atas.
Ada seorang teman perempuan saya yang sangat pintar dan baik hati. Dia bahkan mendapat beasiswa untuk belajar di Jepang. Namun, pandangan masa depan yang dilihatnya adalah menjadi seorang ibu rumah tangga dengan tiga anak. Awalnya, saya mengira bahwa, ya, menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah pilihan di antara banyak pilihan yang berjejer di depan matanya. Namun saat katanya dia juga menambahkan “dunia yang luas ini milik laki-laki”, saya sangat sedih. Yang saya sedihkan bukanlah keinginan dia menjadi ibu rumah tangga tetapi pemikiran dia yang merasa seperti tidak ada pilihan lain yang tersedia bagi perempuan.
Ini membuka mata saya bahwa masih ada wanita yang merasa rendah diri dan merasa tidak memiliki atas pilihan yang sayangnya bukan dikarenakan oleh keadaaan sekitar yang membatasi mereka, tetapi dikarenakan oleh cara berpikir lama yang mungkin masih terpatri saat mereka tumbuh dewasa yang diturunkan dari orang-orang tua mereka.
Saya bersyukur dibesarkan oleh orang tua yang selalu menanamkan bahwa ‘tidak ada yang membatasi perempuan untuk menjelajahi dunia’. Saya percaya perempuan juga memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam hal di luar kodrat. Saya menghargai apapun pilihan perempuan terhadap masa depan mereka. Saya hanya berharap semoga pilihan itu memang berdasarkan keinginan atau cita-cita mereka, bukan berdasarkan rasa rendah diri, kecil, atau rasa tidak mempunyai pilihan. Amin.
19 June 2012
13 June 2012
MIMPI
Kurasa tak ada orang yang tak tahu apa itu mimpi. Yah, walaupun aku tak tahu pasti apakah semua orang mempunyai mimpi.
Kalau besar, besok mau jadi apa?
Apa mimpimu?
Pertanyaan itu selalu terlontar dari orang-orang sekitar entah apakah karena mereka benar-benar peduli atau hanya basa basi.
Akhirnya hanya kujawab seadanya.
Jawabanku selalu profesi paling keren yang bisa kubayangkan.
Dulu aku tak begitu memikirkan apakah aku akan mencapainya atau tidak, jadi profesi apapun itu tak masalah.
Namun, semakin aku bertemu banyak orang aku menyadari betapa banyak orang yang kelihatannya serius ingin mencapai mimpinya.
Betapa banyak orang yang menggantungkan mimpi setinggi yang bisa mereka bayangkan.
Aku pernah menggantungkan mimpi.
Tinggiiii sekali sampai aku tak yakin apakah aku bisa mencapainya.
Kali ini aku benar-benar ingin mencapai mimpi itu.
Aku merencanakan setiap langkah yang harus kutempuh untuk bisa mencapainya.
Sebagian besar perhatianku kucurahkan untuknya.
Bukan hanya setahun dua tahun waktu yang persembahkan.
Dan ya, saat mimpi itu tercapai, bukan main senangnya. Serasa seluruh waktu, tenaga, dan pikiran untuk mencapainya terbayar sudah. Seakan mencecap air setelah melewati tanah tandus berkilo-kilo jauhnya.
Membuka kenangan perjuangan dalam mencapainya, aku merasa hidupku saat itu berputar mengelilinginya.
Seperti pusaran air yang berputar menunggu seluruh partikelnya tersedot dalam suatu lubang.
Betapa aku melewatkan banyal hal untuk mencapai satu pusat pusaran ini.
Itu yang pertama kali terpikir olehku.
Memiliki mimpi membuatku melihat lurus ke arahnya dengan mengacuhkan sedikit banyak hal di sekitarku.
Jika dulu aku tak berpusing di pusaran ini, seperti apa hal yang akan kudapatkan saat itu?
Pengalaman apa yang kiranya akan kulalui?
Nilai-nilai apa yang kiranya akan kupelajari?
Aku tak menyesali apapun. Hanya berpikir untuk lebih menghargai setiap langkah, setiap keadaan, dan setiap kesulitan yang kulalui untuk mencapai mimpiku selanjutnya.
Merasakan segala proses dan menikmatinya.
Membuka diri terhadap segala kemungkinan yang ada.
Seperti meletakkan mimpi pada satu sudut ruangan yang di dalamnya berserakan lego yang belum diselesaikan.
Mengerjakan lego terdekat yang ingin kukerjakan.
Terus berjalan sambil menyelesaikan lego yang menghadang.
Jika aku mencapai mimpiku, sungguh itu kebahagiaan yang menyejukkan.
Namun, jika aku tak dapat mencapai sudut itu, setidaknya aku tidak menyesali satu hal pun dan lebih menghargai diriku sendiri dengan seluruh proses yang telah kulalui.
Aku tahu, mungkin ini terdengar lembek dan tidak cukup tangguh untuk menjadi Sang Penggapai Mimpi seperti yang diidealkan banyak orang.
Biar.
Kalau besar, besok mau jadi apa?
Apa mimpimu?
Pertanyaan itu selalu terlontar dari orang-orang sekitar entah apakah karena mereka benar-benar peduli atau hanya basa basi.
Akhirnya hanya kujawab seadanya.
Jawabanku selalu profesi paling keren yang bisa kubayangkan.
Dulu aku tak begitu memikirkan apakah aku akan mencapainya atau tidak, jadi profesi apapun itu tak masalah.
Namun, semakin aku bertemu banyak orang aku menyadari betapa banyak orang yang kelihatannya serius ingin mencapai mimpinya.
Betapa banyak orang yang menggantungkan mimpi setinggi yang bisa mereka bayangkan.
Aku pernah menggantungkan mimpi.
Tinggiiii sekali sampai aku tak yakin apakah aku bisa mencapainya.
Kali ini aku benar-benar ingin mencapai mimpi itu.
Aku merencanakan setiap langkah yang harus kutempuh untuk bisa mencapainya.
Sebagian besar perhatianku kucurahkan untuknya.
Bukan hanya setahun dua tahun waktu yang persembahkan.
Dan ya, saat mimpi itu tercapai, bukan main senangnya. Serasa seluruh waktu, tenaga, dan pikiran untuk mencapainya terbayar sudah. Seakan mencecap air setelah melewati tanah tandus berkilo-kilo jauhnya.
Membuka kenangan perjuangan dalam mencapainya, aku merasa hidupku saat itu berputar mengelilinginya.
Seperti pusaran air yang berputar menunggu seluruh partikelnya tersedot dalam suatu lubang.
Betapa aku melewatkan banyal hal untuk mencapai satu pusat pusaran ini.
Itu yang pertama kali terpikir olehku.
Memiliki mimpi membuatku melihat lurus ke arahnya dengan mengacuhkan sedikit banyak hal di sekitarku.
Jika dulu aku tak berpusing di pusaran ini, seperti apa hal yang akan kudapatkan saat itu?
Pengalaman apa yang kiranya akan kulalui?
Nilai-nilai apa yang kiranya akan kupelajari?
Aku tak menyesali apapun. Hanya berpikir untuk lebih menghargai setiap langkah, setiap keadaan, dan setiap kesulitan yang kulalui untuk mencapai mimpiku selanjutnya.
Merasakan segala proses dan menikmatinya.
Membuka diri terhadap segala kemungkinan yang ada.
Seperti meletakkan mimpi pada satu sudut ruangan yang di dalamnya berserakan lego yang belum diselesaikan.
Mengerjakan lego terdekat yang ingin kukerjakan.
Terus berjalan sambil menyelesaikan lego yang menghadang.
Jika aku mencapai mimpiku, sungguh itu kebahagiaan yang menyejukkan.
Namun, jika aku tak dapat mencapai sudut itu, setidaknya aku tidak menyesali satu hal pun dan lebih menghargai diriku sendiri dengan seluruh proses yang telah kulalui.
Aku tahu, mungkin ini terdengar lembek dan tidak cukup tangguh untuk menjadi Sang Penggapai Mimpi seperti yang diidealkan banyak orang.
Biar.